Kisah Sultanah-Sultanah Perkasa Aceh


Dalam rangka memperingati hari Kartini, yuk, kita cari lagi catatan sejarah kita tentang perempuan-perempuan perkasa di Indonesia!  Salah satu cerita yang ada adalah tentang sultanah-sultanah perkasa di Aceh yang memimpin Aceh Darussalam, sejak kejatuhan kerajaan Samudera Pasai.

Kerajaan Aceh Darussalam memerintah sejak tahun 1496 dipimpin oleh Sultan Ali Mughayat Syah.  Sejak masa kerajaan sampai sekarang, Aceh identik sebagai wilayah Islam yang taat.  Oleh sebab itulah, Aceh diberi julukan Serambi Mekkah, yaitu Aceh sebagai berandanya Mekkah, kota suci umat Islam dan juga sebagai pintu masuk utama ajaran Islam yang dari Timur Tengah ke Nusantara.

Sejak tahun 1641, Kerajaan Aceh Darussalam dipimpin oleh sultanah (sultan wanita).  Kepemimpinan oleh para sultanah menunjukkan, bahwa sejak berabad-abad yang lalu wanita Indonesia sudan memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan kaum pria, karena ajaran Islam yang menjejakkan kakinya di nusantara. Yuk, kita kupas siapa saja, sih, yang pernah menjabat sebagai sultanah di Aceh.

Sultanah-Sultanah Aceh

Sultanah Pertama, Sultanah Safiatuddin
Sultanah Safiatuddin

Sultanah Pertama Aceh Darusalam, Sultanah Safiatuddin, memerintah sejak tahun 1641.  Safiatuddin adalah anak tertua Sultan Iskandar Muda (1607-1636) terlahir dengan nama Putri Sri Alam pada tahun 1612.

Sultan Iskandar Muda adalah penguasa Aceh Darusalam yang paling jaya dan makmur, namun beliau tidak memiliki putra mahkota, sehingga digantikan oleh suami Putri Sri Alam, Sultan Iskandar Tsani pada tahun 1636-1641.  Iskandar Tsani adalah putra Sultan Pahang, Sultan Ahmad Syah dan menikah dengan Putri Sri Alam setelah Sultan Iskandar Muda menundukkan Sultan Pahang pada tahun 1617.

Semenjak wafatnya Sultan Iskandar Tsani, Putri Sri Alam menggantikannya sebagai Sultanah Aceh pertama bergelar Paduka Sri Sultanah Ratu Safiatuddin Tajul 'Alam Syah Johan Berdaulat Zillu'llahi fi'il 'Alam binti al Marhum Sri Sultan Iskandar Muda Mahkota Alam Syah.

Pengangkatan Sultanah Safiatuddin membuat beberapa kalangan tidak setuju atas naik tahtanya, sehingga mengakibatkan aksi pemberontakan ditambah dengan ancaman dari menguatnya pengaruh VOC dari Belanda.  Namun, ternyata Sultanah Safiatuddin yang perkasa,  mampu melewati masa-masa sulit dan sukses pula membangkitkan kejayaan Aceh Darusalam yang mengalami masa gemilang pada pemerintahan ayahnya, Sultan Iskandar Muda.

Ratu berhasil mempertahankan hubungan diplomasi dengan kerajaan-kerajaan lain.  Pada masa pemerintahannya, Aceh Darusalam mengalami kemajuan yang sangat pesat di bidang agama, ekonomi, hukum, budaya, seni, ilmu pengetahuan, dan lain-lain.  Pada masa itu hukum ditegakkan setegak-tegaknya, sehingga rakyat dapat hidup dengan aman dan damai.

Pada masa kekuasaan Sultanah Safiatuddin juga mendirikan dan mengadakan perluasan atas perpustakaan negara.  Selain itu sang Sultanah juga mendukung penuh kepada sastrawan dan ilmuwan di bidangnya masing-masing.  Pada masa ini juga dilahirkan para cendekiawan, Hamzah Fanshuri, Syeh Abdur Rauf, Nuruddin Ar-Raniri, dan sebagainya.

Sultanah Safiatuddin mempersiapkan Ratu Nurul Alam Naqiyatuddin, yang tidak memiliki hubungan darah dengannya untuk menggantikannya.  Selain itu, beliau juga mempersiapkan anak perempuan lain bernama Kamalat, yang kelak akan menggantikan sebagai Sultanah ke empat.  Hal ini menunjukkan pada masa sultanah ini tidak menunjukkan ego terhadap kekuasaan, tetapi lebih kepada bagaimana rakyat dapat hidup dengan makmur dan sejahtera.

Sultanah Kedua, Ratu Nurul Alam Naqiyatuddin

Ratu Nurul Alam Naqiyatuddin

Sultanah kedua Aceh, Ratu Nurul Alam Naqiyatuddin.  Ratu Naqiyatuddin memerintah Aceh Darusalam tahun 1675-1678.  Ratu Naqiyatuddin meneruskan hukum yang dibangun oleh Sultanah Safiatuddin.

Sultanah Ketiga, Ratu Zakiyatuddin Inayat Syah

Ratu Zakiyatuddin Inayat Syah


Setelah Ratu Nurul Alam Naqiyatuddin wafat, digantikan oleh putrinya yang bernama Zakiyatuddin.  Beliau bergelar Ratu Zakiyatuddin Inayat Syah dan memimpin Aceh Darusalam periode 1678-1688.  Pada masa kepemimpinan beliau, datang syarif Mekkah, Syarif Hasyim Jamalullail sebagai bentuk hubungan antara kedua wilayah Islam.

Syarif Hasyim akhirnya menetap dan menjadi guru besar Islam di Aceh Darussalam.  Sultanah Zakiyatuddin berbincang dengan Syarif Hasyim Jamalullail dalam Bahasa Arab yang fasih, saling bertukar pikiran dan belajar.  Hal ini menunjukkan, bahwa Sultanah Zakiyatuddin sangat menguasai Bahasa Arab.

Sultanah Keempat, Sultanah Ratu Kamalat Syah Zinat al-Din

Sultanah Ratu Kamalat Syah

Sultanah Ratu Kamalat Syah adalah anak perempuan yang kedua yang dipersiapkan oleh Sultanah Safiatuddin sebagai penggantinya.  Beliau tidak hanya mempersiapkan satu orang sultanah, Ratu Nurul Alam Naqiyatuddin, sebagai penerusnya. Sultanah Kamalat Syah memerintah pada periode tahun 1688-1699.  Pada masa pemerintahannya, Ratu Kamalat Syah menjalankan amanah dalam menegakkan hukum dan keadilan dengan sebaik-baiknya.

Setelah masa pemerintahan Sultanah Kamalat Syah, maka pemerintahan Aceh Darussalam dipimpin oleh Syarif Hasan Jamalullail sebagai penerusnya, yang kemudian keturunannya menyebar ke nusantara.

Ternyata sejak berabad-abad yang lalu, perempuan Indonesia telah memiliki kesamaan hak dan kewajiban dengan laki-laki di Indonesia, khusunya di daerah Aceh,  Berikutnya, yuk, kita bahas perempuan-perempuan perkasa dari daerah lainnya di Indonesia.

Bagaimana pendapatmu tentang para sultanah?  Yuk, tulis di kolom komentar...





14 komentar:

  1. Pengetahuan baru buat aku nih. Ya ampuun, entah dl aku kemana belajar sejarah ya, nama ke-4 sultanah tersebut baru aku tahu sekarang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, akupun baru tahu, makanya di share, ternyata banyak waita hebat Indonesia

      Hapus
  2. Masya Allah...jujur loh Mbak aku baru tau pengetahuan tentang para sultanah ini. Mereka luar biasa ya kontribusinya di Masyarakat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku mendengar info tentang wanita hebat Indonesia di masa lalu....jadi aku mau kupas lebih dalam lagi

      Hapus
  3. Waktu ada pelajaran ini aku pas bolos kali ya...duh
    Memang sejarah sudah membuktikan bahwa perempuan punya kemampuan yang tak kalah dengan pria termasuk saat menjadi pemimpin. Seperti para Sultanah dari Aceh ini!
    Terima kasih sudah membagikan cerita ini, Mbak:)

    BalasHapus
  4. Subhanallah, kemana aja aku selama ini sampai nggak tahu sejarah ini. Dulu sepanjang pelajaran sejarah seringnya menggambar wajah gurunya karena bawaannya jenuh. Padahal sekarang aku malah sangat tertarik pada sejarah. Eh, tapi dulu itu pelajaran sekolah pun nggak pernah membahas pemimpin Aceh selengkap ini, ya. Terima kasih sudah membuat tulisan bermanfaat ini, Mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, semua karena rasa ingin tahu tentang wanita hebat Indonesia di masa lalu...

      Hapus
    2. Sama-sama mbak, semoga bermanfaat

      Hapus
  5. Luar biasa ya mbak. Saya baru tahu nih. Ternyata sejarah bangsa indonesia sudah sejaj dulu mengakui persamaan hak antara laki laki dan permpuan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak dan penjajahanlah yang merusaknya, karena dibalik anak yang cerdas ada ibu yang cerdas, tegar dan kuat

      Hapus
  6. Halo Bu Evalina, sejujurnya nama diatas sangat asing buat sya. Yang saya tau cuma Tjut Nyak Dien hehe. Jadi ada pandangan baru tentang Sultanah Aceh. Mereka sungguh para perempuan kuat yang bisa dijadikan inspirasi perempuan hari ini. Terimakasih sudah menuliskannya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama mbak, semoga berrmanfaat...

      Hapus
  7. Sama-sama mbak, aku sangat suka dengan orang yang menginspirasi, terlebih wanita...

    BalasHapus