Minangkabau, Sejarah dan Sistem Budaya Matrilineal


Minangkabau adalah salah satu suku di Indonesia yang mendiami bagian Barat pulau Sumatera.  Suku Minangkabau mendiami dataran tinggi dan daerah pesisir di Sumatera Barat.  Suku ini menganut sistem matrilineal, yaitu sistem yang menganut adat masyarakat yang mengatur alur keturunan berasal dari pihak ibu. Friends, yuk, kita bahas tentang sejarah dan sistem budaya Matrilineal Suku Minangkabau!

Sejarah dan Sistem Budaya Matrilineal Suku Minangkabau

Sejarah Minangkabau

Istana Paruyung

Beberapa ahli sejarah menyatakan bahwa nenek moyang masyarakat Minangkabau berasal dari bangsa Austronesia yang dulu bermukim di daerah Yunan, Cina Selatan.  Mereka datang ke Nusantara dalam dua gelombang, gelombang pertama, yatiu pada zaman Neolitikum/zaman Batu baru sekitar 2000 SM  Gelombang pertama disebut bangsa Proto Melayu (Melayu Tua), yang berkembang menjadi suku Batak, Nias, Toraja, Kubu, Mentawai, dan sebagainya.

Gelombang kedua, datang pada tahun 500-100 SM.  Gelombang kedua ini disebut Detero Melayu/Melayu Muda, dan berkembang menjadi suku Minangkabau, Makasar, Bugis, Jawa, dan lain-lain.

Asal-Usul Kata Minangkabau

Kata Minangkabau berasal dari kata manang yang berarti menang dan kabau yang berarti kerbau.  Nama itu diketahui dari sejarah yang tertulis di dalam Tambo (sejarah mengenai asal usul sesuatu).  Pada saat itu kerajaan Pagaruyung yang dipimpin oleh raja Adityawarman, akan ditaklukan oleh pasukan Majapahit.  

Agar dapat mencegah terjadinya pertempuran, penasehat raja mengusulkan adu kerbau sebagai pengganti.  Jika kerbau dari pihak Kerajaan Pagaruyung kalah, maka kerajaan diserahkan pada pihak Majapahit.  Namun, jika kerbau dari Kerajaan Pagaruyung menang, pasukan Majapahit diminta agar kembali ke Jawa.  Usulan tersebut disetujui oleh pasukan Majapahit.

Pihak Majapahit menyiapkan kerbau yang besar dan kuat, dengan begitu mereka yakin kerbau mereka akan menang.  Sebaliknya pihak Kerajaan Pagaruyung menyiapkan anak kerbau yang masih menyusui dengan induknya, namun dipisahkan 3 hari dari induknya, dan tanduk anak kerbau itu dipasang dengan tanduk besi yang tajam.

Sesampainya di arena, anak kerbau yang kehausan segera menghampiri sang kerbau yang besar untuk bisa menyusu, karena dikira kerbau tersebut adalah induknya.  Akhirnya kerbau yang besar tersebut mati, karena perutnya terkoyak oleh ujung tanduk anak sapi yang kehausan dan terbuat dari logam tajam tersebut.

Kemenangan tersebut menginspirasikan masyarakat menggunakan nama Minangkabau, yang berarti kemenangan kerbau.

Budaya Minangkabau

Sumber: www.pngdownload.id

Suku Minangkabau merupakan bagian dari masyarakat Deutro Melayu (Melayu Muda).  Suku ini memiliki prinsip adat 'Adat basandi Syarak, Syarak basandi Kitabullah' yang berarti adat bersendikan hukum, hukum bersendikan Al Qur'an.  Hal ini memiliki pengertian bahwa apapun yang terjadi di kehidupan masyarakat Minangkabau selalu berdasarkan aturan-aturan pada Al Qur'an. 

Budaya Matrilineal adalah identitas penting masyarakat Minang.  Matrilineal adalah budaya yang memberikan kedudukan istimewa kepada kaum perempuan, yang dikenal dengan julukan Bundo Kanduang.  Hal ini terkait dengan pentingnya peran perempuan dalam menentukan keberhasilan keputusan-keputusan yang dibuat oleh kaum laki-laki dalam posisi sebagai mamak (paman atau saudara dari pihak ibu) atau penghulu (kepala suku).  Keistimewaan inilah yang menyebabkan perempuan Minang disimbolkan sebagai Limpapeh Rumah Nan Gadang (pilar utama rumah).

Tidak hanya Matrilineal yang identik dengan budaya Minangkabau, tetapi kecerdasan dalam berniaga, serta kegemaran merantau, menjadikan budaya ini dinamis. 

Dalam berniaga atau pun merantau, suku yang memiliki sistem matrilineal ini, umumnya bermukim di kota-kota besar Indonesia, bahkan ada yang bermukim di luar Indonesia, seperti Malaysia dan Singapura.  Hampir separuh jumlah suku yang memiliki hobi merantau ini, hidup di luar wilayah Sumatera.  Bukan hanya orangnya, masakan Minang pun dikenal dan disukai di Indonesia, bahkan di mancanegara, bahkan rendang, masakan khas Minang, beberapa kali dinobatkan sebagai makanan terenak di dunia.

Silek

Identitas budaya lainnya adalah kesenian tari piring, tari pasambahan (tari persembahan/penyambutan tamu), dan silek (silat Minangkabau).

Bahasa 

Ada beberapa versi sejarah bahasa Minang, pertama, masyarakat Minangkabau memiliki bahasa sendiri dan termasuk ke dalam rumpun bahasa Austronesia. 

Versi kedua, bahasa Minangkabau termasuk ke dalam Bahasa Melayu, karena banyak kesamaan bentuk ajaran dan kosakata.  Bahasa Minang sendiri memiliki berbagai macam dialek, sesuai daerahnya masing-masing.

Friends, inilah sejarah, budaya Matrilineal dan asal-usul bahasa Minang, bagaimanakah sejarah daerah kalian, silahkan diisi di kolom komentar ya....



























15 komentar:

  1. Walaupun sekarang sudah mulai bergeser sebagai mantan istri orang Minang, merasakan betul keadaan itu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak...ada memori tentang itu ya mbak...

      Hapus
  2. Sejak dulu saya tertarik dengan budaya Minangkabau. Satu impianku, pengen mengunjungi wilayah Sumatera Barat dan melihat sendiri kebudayaan di sana.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mudah-mudahan segera terlaksana ya mbak...

      Hapus
  3. Wahh, aku belum pernah menulis tentang sejarah Palembang sebagai kampung halamanku. Btw, perantau minang memang SETIA alias Setiap Tikungan Ada hehe..Dulu,waktu masih aktif di Tupperware, barisan executive manager itu orang minang 80%, loh. Kerenn, kan

    BalasHapus
  4. Wah, jadi tahu nih asal-usulnya Minangkabau. Sebelum ini aku nggak tahu banyak soal Minangkabau selain rendang dan kawan-kawan, rumah gadang, dan tari piring. Kalau asal-usul dari daerahku sendiri gimana, ya? Yang kutahu berawal dari peperangan juga tapi nggak ngerti secara mendalam. Perlu belajar juga nih ya supaya bisa diceritakan dan diketahui saudara-saudara yang berlainan suku.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, kita perlu tahu asal-usul suku kita... biarsejarah nggak hilang....

      Hapus
  5. Kalau sejarah malang mah panjang mbak, eh jadi pengen nulis sejarah kotaku juga deh. Inspiratif nih postingannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, kita perlu menggali kembali asal usul suku kita mbak...

      Hapus
  6. Wah aku baru tahu asal usul kata Minangkabau lho mba.. Hehe.. menarik sekali ya. Emang Indonesia kaya banget dengan budaya yang beragam ya Mba.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, sudah sewajarnya kita menggali kebwragaman budaya Indonesia...

      Hapus
  7. Wah...benar-benar cerdik yah. Jadi begitu ya asal-usul nama Minangkabau. Terakhir ke Padang dan Bukittinggi tahun 2009. Dah 10 tahun yang lalu. Pasti udah banyak perkembangan ya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, sudah banyak perubahan di Padang dan Bukittinggi. ..

      Hapus
  8. Belum pernah ke Palembang. Pengen cm blm ada rejeki untuk kesana...

    BalasHapus
  9. He he he ini Minangkabau mbak, Sumatera Barat...

    BalasHapus