Ani Yudhoyono, Ibu Negara Keenam yang Tangguh dan Pejuang


Ani Yudhoyono, ibu Negara Repupblik Indonesia yang ke enam memiliki sejuta kenangan yang terekam dalam ingatan masyarakat Indonesia.  Istri dari Susilo Bambang Yudhoyono ini memiliki hobi fotografi dan mencatat  keluhan masyarakat yang ditemuinya ketika berkunjung ke daerah mendampingi suami beliau.  Ani Yudhoyono adalah perempuan yang tangguh dan pejuang, sesuai dengan titisan darah ayah beliau, Sarwo Edhie Wibowo, demikian menurut gubernur DKI Anies Baswedan.

Profil Ani Yudhoyono

Susilo Bambang Yudhoyono dan Ani Yudhoyono

Ibunda dari Agus Hari Murti Yudhoyono dan Edhie Baskoro Yudhoyono ini memiliki nama lengkap Kristiani Herrawati dan dilahirkan  di Yogyakarta pada tanggal 6 Juli 1952.  Walaupun terlahir prematur dan hanya memiliki berat 2 kg, namun ia tumbuh menjadi gadis kuat.

Hidup dalam keluarga yang berlatar belakang militer, Ani Yudhoyono merupakan anak ketiga dari tujuh bersaudara.  Ayahnya, Sawo Edhie Wibowo adalah tokoh militer terkenal yang memimpin gerombolan pemberontak G30S PKI pada tahun 1965 di era Presiden Soeharto dan ibunya adalah Hj. Sri Sunarti Hadiyah.

Ayahnya memberikan nama 'Kristiani' karena terinspirasi dari karakter tokoh pewayangan bernama Kresna yang memiliki karakter baik, Herawati berarti kekuatan.  Sarwo Edhie Wibowo saat itu bertuagas di Batalyon Kresna Yogyakarta, demikian yang tercantum dalam buku biografi Ani Yudhoyono yang berjudul 'Kepak Sayap Putri Prajurit' yang diterbitkan pada tahun 2010.

Masa Kecil Ani Yudhoyono

Saat masih kecil, ia gemar memanjat pohon ceremai dan mangga dan tumbuh menjadi gadis yang tomboy.  Saat masih bersekolah, ia juga kerap pergi sekolah menumpang truk bersama teman-temannya.

Pendidikan Ani Yudhoyono

Ia sempat melanjutkan pendidikan di Fakultas Kedokteran Universitas Kedokteran Indonesia.  Sayangnya tidak dapat menyelesaikan kuliahnya, pada tahun ketiga ia terpaksa tidak melanjutkan kuliah, karena mengikuti ayahnya yang ditugaskan sebagai duta besar di Korea Selatan.  Ia melanjutkan kuliah dan menyelesaikannya sebagai sarjana ilmu politik di Universitas Terbuka.

Pertemuan dengan Susilo Bambang Yudhoyono

Dalam buku biografi Ani Yudhoyono yang disusun oleh Alberthiene Endah disebutkan pada saat itu ayah Ani Yudhoyono adalah Gubernur AKABRI, dan ia seringkali ikut ayahnya dalam berbagai acara.

Ani Yudhoyono

Tahun 1973, merupakan pertemuan pertama dengan SBY, sosok yang berwibawa, tenang, serta atletis, di acara peresmian barak taruna di Magelang.  Ia dan SBY berpisah sekitar 1,5 tahun, karena mengikuti ayahnya yang bertugas sebagai duta besar di luar negeri.  Pada bulan Juli 1975, Ani Yudhoyono dan SBY pun menikah.

Dalam usia pernikahan yang sudah menginjak usia ke 44 tahun, keharmonisan tetap terlihat dalam keluarga Ani Yudhoyono dan SBY.  Apalagi ketika ia sedang dirawat pada salah satu rumah sakit di Singapura, karena kanker darah yang diderita, SBY dan putera-putera, beserta menantunya tetap setia menemani Ani Yudhoyono.

Karir Ani Yudhoyono

Karir politik Ani Yudhoyono adalah sebagai pendamping bapak SBY dalam menjalankan tugas kenegaraan pada saat menjabat sebagai presiden ke-6 Indonesia. 

Beberapa jabatan yang pernah diemban oleh Ani Yudhoyono adalah Ketua Umum DPP Partai Demokrat, Pelindung Utama kegiatan PKK, Pelindung Nasional Women International Club, Duta HIV/AIDS, dan Duta ASI, dan lain-lain.

Sampai dengan kesehatannya diuji, ia masih aktif dalam organisasi PERSIT Candra Kirana dan Dharma Wanita, dan semangatnya untuk memajukan Indonesia dapat dilihat dengan keikutsertaannya di pemilu 2019 yang baru berlangsung.

Keluarga Besar Susilo Bambang Yudhoyono dan Ani Yudhoyono

Ani Yudhoyono merupakan panutan bagi putera-puterinya, ia merupakan sumber kekuatan dalam keluarga, menurut menantunya.  Tidak pernah sekalipun ia meninggalkan SBY, selalu menyertai kemanapun bapak SBY bertugas, ketika beliau masih menjabat presiden.

Semoga sekilas biografi Ani Yudhoyono, ibu negara keenam yang tangguh dalam hidupnya maupun dalam menghadapi penyakit yang diderita, dapat menjadi inspirasi bagi kita, dalam menjalani kehidupan dan menghadapi masa yang akan datang.






8 komentar:

  1. Mamaku 32 tahun setelah mama meninggal papah menyusul 8 bulan kemudian. Aku ingin ikut jejaknya tapi takdirku berkata lain, di tahun ke-23 ditinggal wafat karena sakit. Kini Allah berikan takdir baru beribadah lagi dengan yang ke-2

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masya Allah...semoga selalu sakinah mawaddah warahmah mbak...

      Hapus
  2. Saya sangat menggemari beliau... Sosok yang keibuan dan berwibawa, semoga Almarhumah diterima segala amalan ibadahnya, Amin.

    BalasHapus
  3. Sosok ibu negara yang sangat dicintai oleh rakyat. Aku sedih sekaligus terharu melihat bagaimana beliau dicintai oleh suami,anak, menantu, dan masyarakat Indonesia.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga di akhir hidup kita juga disayangi oleh orang-orang yg mengenal kita, Aamiin

      Hapus
  4. Sosok yang sangat menginspirasi bagi perempuan-perempuan Indonesia. Betapa kecintaannya kepada suami dan anak serta cucu-cucunya mengajarkan kita banyak hal. Semoga beliau husnul khatimah

    BalasHapus
  5. terima kasih sharingnya mbak, jujur deh baru tahu ini kisahnya bu Ani.
    Mampir ya ke bundaeni[dot]com

    BalasHapus
  6. Bu Ani memang luar biasa. Banyak peninggalan beliau yang dapat jadi pembelajaran buat generasi berikutnya.

    BalasHapus