Mengenal Museum Kebangkitan Nasional, Cagar Budaya Sekolah Kedokteran Indonesia

Hari purbakala, merupakan hari peringatan nasional terkait dengan keberadaan cagar budaya yang jumlahnya sangat banyak di Indonesia.  Beruntung, saya mendapatkan kesempatan untuk menghadiri peringatan Hari Purbakala ke-106, dengan tema acara awal "Menelusuri Jejak-Jejak Momumental Sepanjang Sudirman-Thamrin".  Namun, sayangnya karena sesuatu hal, maka panitia memindahkan acara yang diselenggarakan pada tanggal 16 Juni 2019 ini menjadi "Mengenal Museum Kebangkitan Nasional, Cagar Budaya Sekolah Kedokteran Indonesia".

Suasana di ruang kelas (dok.pri)

Mengenal Museum Kebangkitan Nasional

Acara dimulai dengar registrasi awal, antara pukul 07.00-08.00.  Sebelum memasuki ruangan, peserta dibagikan perlengkapan buku notes, pulpen, tanda peserta, bros, kaus peserta berwarna biru tosca,  juga Bulletin Cagar Budaya dalam 1 tas yang unik.  Peserta terdiri siswa SMA beserta guru pendamping, wakil dari Komunitas Pencinta Museum Indonesia, serta masyarakat umum.

Para Nara sumber menyampaikan materi (dok.pri)
Acara dimulai dengan diskusi yang didahului oleh pemberian sambutan oleh Kasubdit Pelestarian Cagar Budaya dan Museum, wakil dari Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia, serta ketua guru sejarah Indonesia, Kepala Museum Depdiknas, dan Kepala Museum Kebangkitan Nasional.

Pada saat ini diinformasikan acara di Museum Kebangkitan Nasional adalah merupakan salah satu rangkaian kegiatan Peringatan Hari Purabakala ke-106, yang diantaranya adalah kegiatan pembuatan film kaleidoskop, lomba penulisan ensikplodia cagar budaya, serta lomba foto cagar budaya yang bisa dilihat di instagramnya Hari Purbakala ke 106.

Para peserta menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya (dok.pri)
Pada diskusi ini nara sumber mengutarakan harapan adanya buku antologi yang terkait dengan cagar budaya Museum Kebangkitan Nasional.  Nara sumber kedua, Kepala Museum Depdiknas menyatakan cagar budaya merupakan pilar dari pembangunan, dan juga merupakan pondasi pembangunan.  Peserta diharapkan sebagai perpanjangan tangan tentang pentingnya cagar budaya di Indonesia.  Pesan dari nasa sumber ketiga, wakil dari Ikatan Ahli Areologi Indonesia adalah agar menggali lingkungan sejarah tempat tinggal kita, seperti bagaimanakan sejarah lahirnya kota Jakarta? Kapan tanggal lahir kota Jakarta?

Menelusuri Jejak Sejarah Museum Kebangkitan Nasional
Setelah acara diskusi, peserta pun dibagi 2 kelompok dengan 2 pemandu yang berbeda.  Kami mengikuti kelompok yang dipimpin oleh Bapak Swa.

Lonceng yang digunakan di STOVIA (dok.pri)
Kelompok kami mulai menuju ruangan-ruangan di museum.  Yang pertama dikunjungi adalah bel masuk tempo dulu, bel inilah yang digunakan untuk mengingatkan mahasiswa STOVIA (School Tot Opleiding Van Inlandshce Artsen) atau Sekolah Kedokteran Bumiputera masuk kelau untuk mengikuti pelajaran.

Berikutnya adalah ruangan yang menjelaskan tentang proses berdirinya sekolah STOVIA yang menjadi cikal bakal jurusan Kedokteran Universitas Indonesia.

Berita tentang awal berdirinya Sekolah Dasar Jawa (dok.pri)
Ruang yang kami masuki pertama adalah Ruang STOVIA I, ruang "Perubahan".  Di ruang itu menggambarkan pada 1847 mewabah penyakit menular, seperti types, kolera, dan disentri yang membuat tenaga medis pemerintahan Hindia Belanda kewalahan.  Sehingga pada tahun 1851 didirikanlah Sekolah Dasar Jawa untuk menjadi dokter pribumi dan "vaccinateur" (mantri cacar).  Pada masa ini pendidikan ditempuh dalam waktu 2 tahun.

Berdirinya STOVIA (dok.pri)
Ruang berikutnya, adalah perkembangan sekolah dari 2 tahun menjadi 4 tahun, kemudian menjadi 7 tahun.  Sekolah Dokter Jawa pun berubah menjadi Sekolah Dokter Pribumi (STOVIA).

Alat pemech tengkorak kepala (dok.pri)
Satu alat yang menjadi perhatian para peserta adalah adanya alat pemecah tengkorak.   Wiiiihhhh! Peserta serentak berkomentar bersamaan membayangkan tengkorak kepala dipecahkan!   Pak Swa langsung menjawab. 'Tenaaaang... tengkoraknya sudah terpisah dari tubuh...jadi, bukan tengkorak kepada orang hidup!  Para peserta pun menjawab bersamaan,"Ooooo...begituuuu!

Kelengkapan asrama mahasiswa STOVIA (dok.pri)
Kamipun mengelilingi seluruh ruangan di gedung yang cukup luas ini, antara lain ruang direktur, ruang kelas, ruang laboratorium, bahkan ruangan asrama.  Yup, ruangan asrama menyatu di gedung ini.
Gedung STVIA yang baru dan menjadi cikal bakal FK UI (dok.pri)
Pada tanggal 5 Juli 1920 seluruh kegiatan pendidikan STOVIA dipindahkan ke Salemba, sekarang bernama gedung Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.  Yup, STOVIA adalah cikal bakal Fakultas Kedokteran UI

Pemberian souvenir kepada peserta (dok.pri)
Acara hari ini ditutup dengan pemberian souvenir bagi peserta yang dapat menjawab pertanyaan dan berdasarkan foto instagram yang diupload di instagram masing-masing yang paling menarik, serta pengenalan kepada kelompok Menulis Dandelion.  Tentunya yang tidak ketinggalan dalam setiap pertemuan adalah foto bersama seluruh peserta.

Peserta foto bersama (dok.pri)
Demikianlah acara mengenal Museum Kebangkitan Nasional, cagar budaya yang berada di Jakarta.

Friends, apa sajakah cagar budaya di daerah kalian masing-masing?  Yuk, isi jawaban kalian di kolom komentar dan mari kita jaga cagar budaya di daerah kita masing-masing, agar generasi mendatang masih mengenal sejarah nenek-moyangnya!









1 komentar:

  1. Faktanya, kebanyakan dari kita gak tau tentang cagar budaya yang ada di sekitar tempat tinggal kita. Generasi sekarang aja belum tentu tau, generasi mendatang bisa jadi gak mau tau. Gue rasa di Indonesia ini ada yang salah dengan penyajian sejarah di museum-museum. Ah, sudahlah.

    BalasHapus